Video perkelahian Iwan Pansa dan Suparman Memanas, Syamsuar Serukan Bijak Bermedia dan Hindari SARA

Berita, Riau127 Dilihat
banner 468x60

Video perkelahian Iwan Pansa dan Suparman Memanas, Syamsuar Serukan Bijak Bermedia dan Hindari SARA

 

banner 336x280

Pekanbaru. Suasana sebuah kafe di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, mendadak berubah tegang, Dalam potongan video yang kini beredar luas di media sosial, dua pria yang belakangan diketahui sebagai Iwan Pansa dan Suparman—terlibat percekcokan.

Hanya beberapa detik. Tanpa konteks, Tanpa penjelasan utuh, Namun di era digital hari ini, beberapa detik itu sudah cukup.

Cukup untuk memantik ribuan komentar.
Cukup untuk memicu amarah publik, Dan ironisnya, cukup untuk “mengadili” seseorang di ruang maya.

Syamsuar, seorang penggiat media sosial di Riau, melihat fenomena ini dengan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.

Menurutnya, apa yang terjadi dalam video tersebut adalah murni persoalan pribadi antara dua individu—bukan konflik yang layak ditarik ke ranah yang lebih luas, apalagi hingga menyeret isu sensitif seperti SARA atau kelompok tertentu.

“Kita hanya melihat potongan cerita, Bukan awalnya, bukan penyebabnya, dan bukan keseluruhannya,” ujarnya.

Ia menegaskan, dalam video yang beredar tidak terlihat adanya upaya merendahkan harkat dan martabat kelompok mana pun, termasuk masyarakat Melayu.

Tidak ada pula simbol atau pernyataan yang membawa nama organisasi tertentu, Semua itu, kata dia adalah asumsi yang dipaksakan, Padahal, dampaknya nyata.

Nama Iwan Pansa terseret dalam arus besar opini publik, Dihakimi tanpa didengar Divonis tanpa diberi ruang menjelaskan.

Fenomena ini, menurut Syamsuar, bukan lagi soal mencari kebenaran, melainkan cerminan dari keramaian digital yang kerap haus sensasi.

“Hari ini Iwan Pansa. Besok bisa siapa saja,” katanya.
Ia mengingatkan, sebagai masyarakat terutama sebagai putra daerah Melayu Riau publik seharusnya tidak mudah terpancing oleh narasi yang belum jelas kebenarannya, terlebih jika diarahkan pada isu-isu yang berpotensi memecah belah.

Lebih jauh, Syamsuar juga menyoroti bahaya “trial by media”, di mana seseorang dihakimi di ruang publik sebelum fakta terungkap.

Di tengah derasnya arus informasi, batas antara fakta dan opini kian kabur, Setiap orang bisa menjadi komentator, Bahkan, tanpa sadar, menjadi “hakim”.

Padahal, ada konsekuensi yang tak ringan, Reputasi bisa hancur dalam hitungan jam, Nama baik bisa runtuh dalam satu unggahan, Dan tidak semua kerusakan itu bisa diperbaiki, Karena itu, Putra Kelahiran Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial.

Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, Tidak membangun narasi yang merugikan pihak lain, Tidak melakukan pencemaran nama baik, Tidak memicu kebencian berbasis asumsi Ia juga mengingatkan bahwa penyebaran fitnah, ujaran kebencian, hingga konten yang merugikan kehormatan seseorang dapat berimplikasi hukum, termasuk berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Pada akhirnya, peristiwa ini bukan sekadar tentang dua orang yang berselisih di sebuah kafe, Ini adalah cermin, Cermin tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat digital, merespons informasi. Apakah kita memilih untuk memahami… atau sekadar bereaksi?

“Kalau masih punya akal sehat, jangan ikut jadi hakim,” tegas Syamsuar.

Tahan komentar. Tunggu fakta.”
Karena di balik setiap video viral, selalu ada cerita yang belum selesai diceritakan, Dan di balik setiap nama yang disorot, ada manusia yang harus menanggung akibatnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *