Pulau yang Terus Terkikis: Jeritan dari Pesisir Rangsang yang Menunggu Penyelamatan

banner 468x60

Pulau yang Terus Terkikis: Jeritan dari Pesisir Rangsang yang Menunggu Penyelamatan

RANGSANG — Deburan ombak yang menghantam pesisir Pulau Rangsang tidak lagi sekadar menjadi irama alam yang menenangkan.

banner 336x280

Bagi masyarakat yang hidup di sepanjang garis pantai pulau terluar Kabupaten Kepulauan Meranti ini, suara ombak kini terdengar seperti alarm bahaya yang datang setiap hari, mengikis daratan sedikit demi sedikit, tanpa henti.

Setiap tahun, bibir pantai Pulau Rangsang yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka mengalami abrasi antara lima hingga sepuluh meter.

Angka itu mungkin terlihat kecil di atas kertas, namun bagi masyarakat pesisir, kehilangan lima hingga sepuluh meter daratan berarti kehilangan kebun yang menjadi sumber penghidupan, kehilangan halaman rumah tempat anak-anak bermain, bahkan kehilangan tempat tinggal yang telah diwariskan turun-temurun.

Di sejumlah titik pesisir, jejak abrasi terlihat begitu nyata. Pohon-pohon kelapa yang dulunya berdiri kokoh kini tumbang ke laut, Akar-akarnya menggantung di udara sebelum akhirnya ikut terseret ombak.

Tanah yang dahulu menjadi kebun dan lahan produktif perlahan berubah menjadi bagian dari lautan. Rumah-rumah warga yang sebelumnya berada jauh dari garis pantai kini hanya berjarak beberapa langkah dari bibir abrasi.

Tokoh Pemuda Penggiat Lingkungan Kabupaten Kepulauan Meranti, Tomy Aulia, mengungkapkan bahwa kondisi yang terjadi saat ini sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan sekali Setiap tahun abrasinya mencapai lima hingga sepuluh meter.

Banyak kebun dan rumah penduduk yang sudah masuk ke dalam laut. Ini benar-benar menjadi ancaman bagi kami yang tinggal di sepanjang pantai,” ujarnya.

Bagi masyarakat Pulau Rangsang, abrasi bukan lagi isu lingkungan yang hanya dibicarakan dalam seminar atau laporan penelitian. Abrasi telah menjadi kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

Mereka menyaksikan sendiri bagaimana daratan yang selama puluhan tahun menjadi tempat berpijak perlahan hilang ditelan gelombang.

Ketika musim angin utara tiba dan gelombang laut meninggi, rasa cemas masyarakat semakin besar, Setiap malam, mereka dihantui kekhawatiran bahwa tanah di belakang rumah bisa runtuh sewaktu-waktu.

Tidak sedikit warga yang memilih tetap terjaga saat cuaca buruk karena takut terjadi longsoran yang dapat mengancam keselamatan keluarga mereka.

Menurut Tomy, abrasi yang terjadi saat ini telah menyebabkan banyak tanah longsor dan hanyut ke laut, Bahkan di beberapa lokasi, pengikisan sudah mendekati permukiman warga.

“Tanah runtuh dan hanyut ke laut sudah sampai ke belakang rumah penduduk Sungai Rangsang, Kehidupan masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai benar-benar merasa terancam,” katanya.

Fenomena abrasi yang melanda Pulau Rangsang bukanlah persoalan baru Namun, laju kerusakan yang terus meningkat menunjukkan bahwa ancaman ini semakin serius.

Letak geografis Pulau Rangsang yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka menjadikannya rentan terhadap hempasan gelombang dan arus laut yang kuat, Di sisi lain, berkurangnya vegetasi pelindung pantai seperti mangrove turut mempercepat proses pengikisan daratan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan yang serius dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin sebagian wilayah pesisir Pulau Rangsang akan hilang dari peta dalam beberapa dekade mendatang.

Ancaman tersebut bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat, Ribuan warga yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan, perikanan, dan aktivitas ekonomi pesisir akan menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Ketika lahan hilang, sumber penghasilan ikut menghilang, Ketika rumah rusak akibat abrasi, masyarakat dipaksa memulai kehidupan dari nol, Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, abrasi berpotensi memicu perpindahan penduduk secara perlahan karena wilayah tempat tinggal mereka tidak lagi aman untuk dihuni.

Ironisnya, masyarakat pesisir Pulau Rangsang telah berulang kali menyuarakan kondisi yang mereka alami, Mereka berharap pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah daerah dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap persoalan ini.

Sebab bagi mereka, abrasi bukan hanya tentang hilangnya daratan, tetapi juga tentang hilangnya masa depan generasi yang akan datang.

Pembangunan pelindung pantai, rehabilitasi mangrove secara masif, serta program mitigasi yang berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.

Setiap meter daratan yang hilang hari ini adalah kehilangan yang mungkin tidak akan pernah bisa dikembalikan, Pulau Rangsang saat ini seolah sedang mengirimkan pesan darurat kepada semua pihak. Pesan tentang sebuah pulau yang terus terkikis, tentang masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang bencana, dan tentang harapan yang masih tersisa agar negara hadir sebelum semuanya terlambat.

Karena ketika ombak terus datang dan daratan terus hilang, yang dipertaruhkan bukan hanya tanah di tepi pantai, melainkan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir Pulau Rangsang itu sendiri.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *