Di Tengah Video Viral, Seruan Menahan Diri: Syamsuar Imbau Publik Jauhi Isu SARA

Berita, Riau532 Dilihat
banner 468x60

Di Tengah Video Viral, Seruan Menahan Diri: Syamsuar Imbau Publik Jauhi Isu SARA

 

banner 336x280

Pekanbaru — Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, sebuah video perkelahian yang melibatkan Iwan Pansa dan Suparman di sebuah kafe di Jalan Arifin Ahmad menjadi perbincangan luas.

Namun di balik viralnya potongan peristiwa itu, muncul kekhawatiran yang lebih besar: potensi polarisasi akibat narasi yang belum tentu benar.

Syamsuar, seorang penggiat media sosial di Riau, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang mengarah pada isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

“Saya kira jangan lekas percaya informasi yang berbau SARA,” ujarnya.

Menurutnya, apa yang terlihat dalam video tersebut belum tentu mencerminkan keseluruhan kejadian. Potongan gambar dan durasi singkat sering kali menimbulkan persepsi yang keliru, apalagi jika ditarik ke arah yang sensitif dan berpotensi memecah belah.

Fenomena ini, kata Syamsuar, bukan hal baru, Di era digital, informasi dapat menyebar begitu cepat—melampaui kemampuan publik untuk memverifikasi kebenarannya.

Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian menjadi kunci, Ia menilai, peran pemerintah juga penting dalam menjaga ruang digital tetap sehat.

Pengawasan terhadap konten yang berpotensi memicu konflik sosial dinilai perlu diperkuat, Pemerintah harus mengevaluasi media sosial. Ini perlu dikontrol dan diawasi karena banyak sekali informasi yang bisa mengadu domba. Ini berbahaya,” tegasnya.

Namun demikian, tanggung jawab tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Syamsuar menekankan bahwa masyarakat memiliki peran yang sama besar dalam menjaga ketenangan dan persatuan.

Di tengah kemudahan berbagi informasi, publik diingatkan untuk tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran konten yang belum terverifikasi—terlebih jika konten tersebut mengandung unsur provokasi atau mengarah pada konflik.

“Jangan mudah percaya, apalagi ikut menyebarkan. Bahkan kalau perlu, jangan broadcast informasi yang bisa memancing emosi atau mengajak berkelahi,” katanya.
Ia juga menyoroti bagaimana isu SARA kerap digunakan sebagai “bumbu” untuk memperbesar konflik yang sebenarnya bersifat personal.

Jika dibiarkan, hal ini tidak hanya merugikan pihak yang terlibat, tetapi juga dapat merusak harmoni sosial yang telah terjaga.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang ramai perlu diikuti.

Di tengah kebisingan opini, yang dibutuhkan justru adalah kejernihan sikap.Menahan diri,
Memeriksa fakta, dan menolak terlibat dalam arus yang memecah belah, Karena pada akhirnya, menjaga persatuan bukan hanya tugas negara—tetapi tanggung jawab bersama.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *