Tanah Merah Menunggu Penyelamatan Ketika Laut Perlahan Menghapus Daratan dan Harapan Warga Tomy Sekretaris Forum Pemuda Penggiat Lingkungan Desak Pemerintah Bertindak Cepat

banner 468x60

Tanah Merah Menunggu Penyelamatan Ketika Laut Perlahan Menghapus Daratan dan Harapan Warga
Tomy Sekretaris Forum Pemuda Penggiat Lingkungan Desak Pemerintah Bertindak Cepat

Selatpanjang. Deru ombak yang menghantam pesisir Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, kini tak lagi sekadar suara alam yang menenangkan.

banner 336x280

Bagi masyarakat setempat, bunyi gelombang itu telah berubah menjadi alarm bahaya yang datang setiap hari, mengingatkan bahwa daratan tempat mereka berpijak perlahan-lahan sedang hilang ditelan laut.

Di desa yang berada di tepian Selat Malaka itu, abrasi bukan lagi ancaman masa depan, Ia sudah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh warga.

Tanah yang dahulu menjadi kebun, halaman rumah, hingga tempat pemakaman keluarga, satu per satu lenyap akibat terjangan ombak yang tak pernah berhenti.

Setiap kali air pasang datang disertai angin kencang, warga hanya bisa berharap tanggul darurat yang mereka bangun secara swadaya masih mampu bertahan, Namun harapan itu semakin tipis seiring semakin dekatnya bibir pantai ke pemukiman penduduk.

“Banyak warga hidup dalam kecemasan. Mereka tidak tahu sampai kapan rumah mereka masih aman dari hantaman ombak,” ungkap Tomy. Sekretaris Forum Pemuda Penggiat Lingkungan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Daratan yang Terus Menyusut Berdasarkan pemantauan Tomy, abrasi di Desa Tanah Merah berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Puluhan meter garis pantai telah hilang. Lahan produktif yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat ikut musnah. Bahkan sejumlah rumah warga terpaksa dipindahkan karena terlalu dekat dengan laut.

Tak hanya itu, jalan penghubung desa mengalami keretakan, sementara area pemakaman umum mulai tergerus gelombang.

Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa abrasi telah mengancam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial, hingga keselamatan jiwa.
Bagi warga pesisir, kehilangan tanah bukan hanya kehilangan aset. Itu berarti kehilangan sejarah, identitas, dan warisan yang telah diwariskan turun-temurun.

Benteng Alam yang Kian Hilang Tomy menilai kerusakan pesisir yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam, Berkurangnya kawasan mangrove yang selama ini menjadi benteng alami pantai turut memperparah laju abrasi.

Mangrove memiliki fungsi penting sebagai penahan gelombang, penangkap sedimen, sekaligus pelindung alami pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Meranti. Ketika benteng alami itu rusak, laut lebih leluasa mengikis daratan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa intervensi serius, bukan tidak mungkin sebagian wilayah Desa Tanah Merah akan semakin menyempit dan kehilangan daratan secara permanen.

Menunggu Kehadiran Negara
Di tengah ancaman yang semakin nyata, masyarakat berharap pemerintah hadir bukan hanya melalui janji, tetapi juga tindakan konkret.

Tomy mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk segera turun langsung ke lokasi, melihat kondisi warga, sekaligus menyusun langkah penanganan yang cepat dan terukur.

Pembangunan pelindung pantai yang permanen, rehabilitasi mangrove, penyediaan bantuan bagi warga terdampak, hingga penyusunan strategi jangka panjang dinilai menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.

“Masyarakat Tanah Merah tidak membutuhkan simpati semata, Mereka membutuhkan solusi nyata untuk menyelamatkan kampung halamannya,” tegas Tomy.

Jangan Sampai Terlambat Abrasi di Desa Tanah Merah sesungguhnya menjadi peringatan bagi seluruh wilayah pesisir Kepulauan Meranti. Ancaman perubahan garis pantai bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan persoalan kemanusiaan.

Ketika laut terus maju dan daratan terus mundur, yang dipertaruhkan bukan sekadar tanah, melainkan masa depan sebuah desa,
Hari ini warga Tanah Merah masih bertahan. Mereka masih menjaga rumah, kebun, dan kampung yang mereka cintai.

Namun waktu terus berjalan, sementara ombak tidak pernah berhenti, Pertanyaannya, apakah penyelamatan akan datang sebelum laut benar-benar menghapus Tanah Merah dari peta.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed